Selasa, 24 Februari 2015

Air Mata Terakhir Bunda sebuah film garapan Endri Pelita dari novel dengan judul yang sama karya Kirana Kejora. Film ini diperankan oleh Happy Salma, Rizky Hanggono, Vino G Bastian dan Marsha Timothy serta dilengkapi dengan peran anak asli Sidoarjo.
Sebuah keluarga kecil dan bahagia jelas tergambar dengan melihat lokasi rumah yang sangat sederhana. Happy Salma yang memerankan seorang Ibu begitu terlihat sangat kental sekali sosok keibuannya. Seorang Ibu yang mendidik anaknya sendirian, berjuangan untuk bisa membesarkan anak-anaknya demi berjualan lontong kupang. Sama seperti Ibu-ibu yang lain, semuanya pasti ingin anaknya sekolah yang tinggi, menjadi sarjana dan sukses. Ibu Sriyani yang diperankan oleh Happy Salma, mempunyai mimpi anaknya diwisuda dan jadi sarjana. Mimpi dan harapan memang tidak ada batasnya, tak terbatas juga keinginan seorang ibu yang hanya penjual lontong kupang keliling.
“Ada alasan kenapa ibu ingin anaknya jadi mahasiswa, agar bisa jadi kebanggaan ibu kalau sudah jadi sarjana”
Delta Santoso diperankan oleh Vino G Bastian yang apik, ia menjadi anak yang berjuang untuk mewujudkan mimpi Ibunya. Dan Rizky Hanggono sebagai Iqbal, seorang kakak yang terlihat sayang dengan keluarganya, kedekatan mereka seperti nyata dan semua orang pasti juga pernah mengalami hal yang sama. Pernah dicewer, pernah dimarahin ibu, semua pasti pernah. Film ini memang menguras air mata, sesekali memang ada canda tawa dengan kehadiran Mamik Prakosa dan Iqbal kecil dan Delta kecil yang diperankan oleh orang asli Sidoarjo dengan bahasa jawatimuran yang sangat kental dan khas.
Perjuangan Delta dan kerja keras yang telah diajarkan oleh Ibunya sejak kecil ia bawa hinggal kuliah. Delta sangat ingin sekali mewujudkan mimpi ibunya, membuat ibunya bangga. Kewajiban seorang anak ketika masih penuntut ilmu tergambar jelas dari perjuangan Delta, menjadi anak yang baik dan menjadi mahasiswa yang benar dan tentunya tujuannya adalah membahagiakan orang tua. Yang paling dalam, yang saya paling suka saat ketika Delta memberikan ibunya Kebaya untuk dipakai pas wisuda, ia kemudian mencium bajunya, ia menaruh harapan besar untuk ibunya agar ibu datang dan melihatnya diwisuda, seperti keinginan ibu. Itu saja.
Setiap moment terpenting tentunya ingin bersama orang yang disayang. Diwisuda dan menjadi Sarjana adalah moment terpenting, karena sebuah kebanggaan telah berhasil meraihnya. Dihari bahagia Delta, ia harus bersedih juga karena harus kehilangan ibunya yang ia tunggu-tunggu diwisudanya. Ibu memang sudah tidak ada, sudah pergi jauh tapi Ibu tidak benar-benar pergi dari kita, ibu ada dihati kita.
Film yang sangat menginspirasi kita semua, mengingatkan kembali perjuangan seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal membesarkan kedua anaknya ditengah ekonomi yang sulit. Tapi, ibu akan tetap berjuang untuk pendidikan anak-anaknya. Tak kenal lelah, bahkan disaat ia sakit dan harus beristirahatpun ia tak ingin menunjukkan semua itu kepada anak-anaknya. Film ini saya rekomendasikan untuk ditonton bersama Ibu dan keluarga

inggris

Judul Film : Jokowi
Sutradara : Anzhar Kinoi Lubis
Bintang : Teuku Rifnu Wikana, Prisia Nasution, Ayu Dyah Pasha, Susilo Badaar, Landung Simatupang, Ratna Riantiarno
Rated : ***
Seperti halnya ketika menyaksikan Habibie dan Ainun, Soegija, juga Sang Kyai, saya melepaskan pandangan politik menyaksikan Jokowi. Maksudnya agar bisa menikmati film yang disutradarai oleh Anzhar Kinoi Lubis sekaligus juga mendapatkan “sesuatu” yang biasa dibawa pulang, selain hiburan. Sekalipun berbeda dengan ketiga film di atas, harus diakui Jokowi punya magnitut karena dia adalah figur Gubernur DKI Jakarta yang sedang menjabat, bukan seperti Habibie sudah lepas dari kekuasaan politik.
Hasilnya, separuh film ini yang menceritakan bagian Jokowi masa kecil merupakan bagian yang paling menarik. Sutradara cukup detail, misalnya dalam menggambarkan situasi Surakarta pada 1961. Adegan pembukaan ketika Notomiharjo (Susilo Badar) tergesa-gesa menaiki sepeda onthelnya, dengan termos air masa itu berwrana merah (buatan RRC) melintasi pasar bersamaan dengan penggusuran pamong praja terhadap pedagang kaki lima. Notomihardjo sendiri sempat hendak ditangkap, padahal istrinya hendak melahirkan. Anak yang dilahirkan itu bernama Joko Widodo.
Notomiharjo adalah seorang tukang kayu yang pontang-panting menghidupi keluarganya. Dia sempat diusir dari rumah karena tidak sanggup bayar kontrakan rumah. Akhirnya dia ditolong oleh seorang warga yang iba melihatnya makan semangkuk soto berdua dengan istrinya sambil membawa bayi. Mereka tinggal di rumah milik Suroso sampai umur Jokowi 4 tahun. Di sini ada adegan menarik dialog antara Jokowi dengan kakeknya melalui wayang orang tentang figur Semar. “Jadi pejabat itu tidak perlu mentereng”, terang kakeknya. Straight point menanamkan nilai pada Jokowi.
Peristiwa 30 September 1965 digambarkan dengan mencekam di Surakarta, orang-orang digiring bagaikan ternak karena dituduh PKI termasuk Suroso yang menolong keluarga ini. Khawatir terlibat Notomiharjo sekali lagi membawa keluarga minggat. Padahal Notomihardjo sudah punya anak kedua. Adegan pindah ke 1973 ketika keluarga Notomiharjo tinggal di ruamh kontrakan yang pemiliknya penganut agama Katolik.
Periode ini penting karena di sinilah Jokowi ditanamkan nilai-nilai, seperti menghargai perbedaan, menolak disuap oleh kawan sepengajiannya agar tidak diadukan kabur waktu belajar. Detailnya baik sekali Rp 5 masa itu berharga bagi anak-anak untuk jajan dan beberapa keping Rp 5 disodorkan ke Jokowi dan ditolak.” Saya tidak bisa” (seingat saya jumlah itu cukup untuk membeli semangkuk bubur di Jakarta waktu saya masih SD tahun 1970-an). Untuk itu Jokowi kena pukul.
Tragisnya ketika pulang Jokowi berkelahi oleh ayahnya. Notomiharjo memukuli dirinya sendiri dengan rotan di depan Jokowi, ibunya dan tiga adik perempuannya. Ia menghukum dirinya sendiri untuk menunjukkan rasa bersalahnya. Adegan yang mencekam dan brilian, membuat saya menangis. Jokowi ditanamkan nilai untuk menepati janji. Selanjutnya dari masa ke masa falsafah yang ditanamkan kakek dan ayahnya membentuk pribadi Jokowi hingga kuliah. Seperti falsafah tukang soto yang melayani setiap permintaan harus dianut seorang pemimpin. Termasuk juga Jokowi tertarik pada music rock dan disangka ibunya ikut orang-orang yang tidak benar.
Saya tidak terlalu tertarik dengan kisah sesudah periode kuliah. Kecuali, adegan sang ayah menyerahkan tabungan untuk menebus jam tangannya mengingatkan saya pada adegan ayah yang menjual mobilnya agar anaknya kuliah dalam 9 Summers 10 Autumns. Juga kisah asmara Jokowi dan Iriana anak orang kaya menerima Jokowi apa adanya wajar masa itu banyak film Indonesia 1970-an, ketika achievement lebih diperhatikan para gadis dalam memilih pasangannya dari pada status orang tua. Jelas Iriana memilih pemuda yang jujur, anak kuliahan yang punya otak cemerlang. Selanjutnya biasa saja.
Teuku Rifnu Wikana bermain cukup apik menirukan cara bicara dan tertawa Jokowi, gestur tubuhnya walaupun tidak sekuat Reza Rahadian yang rohnya seperti kemasukkan Habibie. Prisia Nasution memang sudah biasa memainkan kharakter perempuan Jawa. Kharakter ini sudah dialami perempuan yang akrib dipanggil Pia itu dalam Sang Penari dan beberapa judul FTV. Yang paling luar biasa adalah akting Susilo Badar benar-benar total menjiwai seorang tukang kayu, orang Jawa Solo kalangan bawah dengan pemikiran rata-rata orang sezaman, keras hati pada prinsipnya dan bukan hanya gestur tubuh.
Yang patut jadi catatan ialah poster film ini agak serupa dengan Habibie dan Ainun. Kurang kreatif dan orisinil. Catatan lain kayaknya ada satu periode yang dilewatkan, yaitu ketika Jokowi memimpin kota Solo. Tahu-tahu melompat lewat adegan berita televisi ketika Jokowi dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tanggung sekali. Jokowi masih di bawah Habibie dan Ainun, namun tentunya masih di atas rata-rata film Indonesia 2013.

Movie Title: Jokowi
Director: Anzhar Kinoi Lubis
Stars: Teuku Rifnu Wikana, Prisia Nasution, Dyah Ayu Pasha, Susilo Badaar, Landung Simatupang, Ratna Riantiarno
Rated: ***
As well as witnessing and Ainun Habibie, Soegija, also the Kyai, I watched Jokowi release political views. That is to be able to enjoy a film directed by Anzhar Kinoi Lubis as well as getting "something" that is used to bring home, in addition to entertainment. Although different from the third movie in the above, it must be admitted Jokowi has magnitut because he is a figure of the Governor of Jakarta is being served, not as Habibie has been separated from political power.
As a result, half of the film which tells part Jokowi childhood is the most interesting part. Directed enough detail, for example, in describing the situation of Surakarta in 1961. The opening scene when Notomiharjo (Susilo Badr) haste onthelnya bike ride, with a water flask that time berwrana red (made in China) across the market along with the civil service against the eviction of street vendors. Notomihardjo himself was about to be arrested, while his wife was about to give birth. Children born was named Joko Widodo.
Notomiharjo is a carpenter who scramble to support his family. He was kicked out of the house because he could not pay the rent of the house. Eventually he was rescued by a citizen who saw him eat a bowl of soup compassion alone with his wife while carrying a baby. They lived in a house owned Suroso until the age of 4 years Jokowi. Here there is a dialogue between Jokowi interesting scene with his grandfather through the puppet of Semar figure. "So it does not need to be flashy officials", said his grandfather. Straight point instill values ​​in Jokowi.
Events of 30 September 1965 was described by gripping in Surakarta, people were herded like cattle for alleged PKI including Suroso that help this family. Worried involved Notomiharjo once again bring the family ran away. Though Notomihardjo already had a second child. The scene in 1973 when the family moved to live in ruamh Notomiharjo owner rented Catholic.
This period is important because this is where Jokowi instilled values, such as respect for differences, refused to be bribed by friends sepengajiannya that the complaint does not blur the time to learn. Details are very well worth Rp 5 days for children to snack and a few pieces of Rp 5 proffered to Jokowi and rejected. "I can not" (as I recall that amount sufficient to buy a bowl of porridge in Jakarta when I was in elementary school in the 1970s ). For that Jokowi caned.
Tragically when home Jokowi fight by his father. Notomiharjo beat himself with a cane in front Jokowi, his mother and three sisters. He punished himself to show his guilt. The scenes are gripping and brilliant, made me cry. Jokowi embedded value to keep their promises. Furthermore, from time to time invested philosophy grandfather and father's behavior Jokowi to college. As artisan philosophy soup serve each request must be adhered to a leader. Including Jokowi also interested in rock music and her mother unexpectedly joined those who are not true.
I'm not too interested in the story after the lecture period. Except, the father handed scene savings to make up for his watch reminds me of the scene the father who sold his car so that his lectures in 9 Summers 10 Autumns. Also romance and Iriana Jokowi rich kid receives what it Jokowi reasonable time a large number of Indonesian films 1970s, when more attention achievement of girls in choosing a partner of the status of the parents. Obviously Iriana choose an honest young man, a college student who had a brilliant brain. Furthermore mediocre.
Teuku Rifnu Wikana played quite nicely mimic talk and laugh Jokowi, although not as strong as his body gestures Reza Rahadian conceded that his spirit like Habibie. Prisia Nasution was already used to play kharakter Javanese women. This Kharakter already experienced by women who akrib called Pia was in The Dancer and some titles FTV. The most remarkable is acting Susilo Badar really total animates a carpenter, a Javanese Solo lower classes with an average of thinking contemporaries, unyielding in principle and not just bodily gestures.
Which should be a record of this movie poster is somewhat similar to Habibie and Ainun. Less creative and original. Another note I think there is a missed period, ie when Jokowi lead Solo. Next thing I know to jump through the TV news scene when Jokowi inaugurated as Governor of Jakarta. Responsibility once. Jokowi still under Habibie and Ainun, but of course still above average Indonesian films in 2013.